Katekese di Era Digital
(Artikel ini dibagikan dalam PKKI X, 2014, dan dimuat pada laman Komkat KWI.)
Pendahuluan
David, ‘seorang’ bocah robotik, sangat ingin menjadi anak laki-laki sungguhan. Keinginan untuk menjadi manusia bersumber dalam kerinduan David untuk dicintai oleh ibu yang meng-‘adopsi’-nya, Monica. David merupakan robot yang dilengkapi dengan perasaan. Ia bisa merasakan sakit dan takut. Bahkan, ia juga mampu mencintai. Tetapi, David hanya bisa mencintai orang yang mengaktifkan program perasaan yang ada di dalam dirinya, dan orang itu ialah Monica. Keterbatasan mencintai yang dimiliki David harus berhadapan dengan keterbatasan mencintai yang dimiliki oleh manusia. Manusia tak dapat mencintai robot, sekalipun robot itu berwujud manusia.
Kisah ini tersaji dalam Artificial Intelligence (A.I.), sebuah film science fiction yang diluncurkan tahun 2001. A.I. mengangkat cerita novel Super-Toys Last All Summer Long karya Brian Aldiss (1969), dan menghubungkan kita dengan cerita Pinokio (1940).[2] Selain menampilkan obsesi David untuk menjadi seorang bocah sungguhan seperti Pinokio, A.I. juga memaparkan karakter kontras yang sangat tajam antara orga (organic beings), yakni kita manusia, dan mecha (mechanical beings), yakni para robot. Ambisi untuk bersaing (dengan sesama bahkan dengan Penciptanya), kedengkian, dan perilaku barbar menjadi ciri manusia; sedangkan ‘ketulusan’, persahabatan, dan perilaku sopan-elegan menjadi ciri para mecha. Dengan semua gambar ini, A.I. mengusik kita untuk merefleksikan lagi kemanusiaan kita. Ketika mecha ingin menjadi manusia, kita manusia ingin menjadi apa? Ketika mecha tampil semakin manusiawi, apakah kita tampil lebih manusiawi?
Di dalam keyakinan iman kristiani, manusia dan kemanusiaannya merupakan inti karya penyelamatan Allah, maka keduanya juga menjadi fokus karya evangelisasi Gereja.[3] Sebagai bagian dari karya evangelisasi, katekese pun memusatkan karya pada manusia dan kemanusiaannya. Berdasarkan keyakinan inilah, kedua pertanyaan tentang manusia dan tampilan manusiawinya menjadi pertanyaan untuk memikirkan isi dan pendekatan katekese, khususnya katekese di era digital. Saya menawarkan refleksi menuju sebuah gagasan kateketis, melalui tiga tahap: memandang realitas manusiawi kita di zaman digital ini, menyadari kembali identitas kita manusia sebagai pribadi, dan mengumpulkan butir-butir pemikiran tentang katekese di zaman digital.
Klik tautan pada judul untuk teks utuh.
(Artikel ini dibagikan dalam PKKI X, 2014, dan dimuat pada laman Komkat KWI.)
Pendahuluan
David, ‘seorang’ bocah robotik, sangat ingin menjadi anak laki-laki sungguhan. Keinginan untuk menjadi manusia bersumber dalam kerinduan David untuk dicintai oleh ibu yang meng-‘adopsi’-nya, Monica. David merupakan robot yang dilengkapi dengan perasaan. Ia bisa merasakan sakit dan takut. Bahkan, ia juga mampu mencintai. Tetapi, David hanya bisa mencintai orang yang mengaktifkan program perasaan yang ada di dalam dirinya, dan orang itu ialah Monica. Keterbatasan mencintai yang dimiliki David harus berhadapan dengan keterbatasan mencintai yang dimiliki oleh manusia. Manusia tak dapat mencintai robot, sekalipun robot itu berwujud manusia.
Kisah ini tersaji dalam Artificial Intelligence (A.I.), sebuah film science fiction yang diluncurkan tahun 2001. A.I. mengangkat cerita novel Super-Toys Last All Summer Long karya Brian Aldiss (1969), dan menghubungkan kita dengan cerita Pinokio (1940).[2] Selain menampilkan obsesi David untuk menjadi seorang bocah sungguhan seperti Pinokio, A.I. juga memaparkan karakter kontras yang sangat tajam antara orga (organic beings), yakni kita manusia, dan mecha (mechanical beings), yakni para robot. Ambisi untuk bersaing (dengan sesama bahkan dengan Penciptanya), kedengkian, dan perilaku barbar menjadi ciri manusia; sedangkan ‘ketulusan’, persahabatan, dan perilaku sopan-elegan menjadi ciri para mecha. Dengan semua gambar ini, A.I. mengusik kita untuk merefleksikan lagi kemanusiaan kita. Ketika mecha ingin menjadi manusia, kita manusia ingin menjadi apa? Ketika mecha tampil semakin manusiawi, apakah kita tampil lebih manusiawi?
Di dalam keyakinan iman kristiani, manusia dan kemanusiaannya merupakan inti karya penyelamatan Allah, maka keduanya juga menjadi fokus karya evangelisasi Gereja.[3] Sebagai bagian dari karya evangelisasi, katekese pun memusatkan karya pada manusia dan kemanusiaannya. Berdasarkan keyakinan inilah, kedua pertanyaan tentang manusia dan tampilan manusiawinya menjadi pertanyaan untuk memikirkan isi dan pendekatan katekese, khususnya katekese di era digital. Saya menawarkan refleksi menuju sebuah gagasan kateketis, melalui tiga tahap: memandang realitas manusiawi kita di zaman digital ini, menyadari kembali identitas kita manusia sebagai pribadi, dan mengumpulkan butir-butir pemikiran tentang katekese di zaman digital.
Klik tautan pada judul untuk teks utuh.

Comments
Post a Comment